AYO FOLLOW

About

 

"Our economic engine is that kind of engine that all of us have the gas pedal down, full throttle, but nobody is holding the steering wheel." - Sadhguru



The Fairy Tale of Eternal Economic Growth

Sistem ekonomi yang menyokong kehidupan kita saat ini merusak planet rumah kita; Bumi. Kalian sudah pernah dengar dan tahu mengenai hal ini dan tahu sebabnya? Atau mungkin kalian baru pernah dengar?

Biar nggak sepertinya sok pintar, saya mau mengutip saja dari Prof. H. Emil Salim. Beliau bilang, “pola pikir ekonomi adalah kegiatan yang melalui pasar menggunakan sumber daya alam menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya bagi perusahaan dan dengan demikian yang berimbas pada PDB (Produk Domestik Bruto), pendapatan nasional, dsb.”

Ada dua hal yang perlu di-highlight pada kalimat tersebut:

1. Yang pertama adalah "menggunakan sumber daya alam."

Alih-alih "menggunakan" sepertinya kata yang lebih tepat adalah "mengeksploitasi." Jadi kegiatan ekonomi kita sekarang ini bukan hanya sekadar menggunakan sumber daya alam, tetapi sudah sampai pada taraf eksploitasi atas sesuatu yang sifatnya terbatas.

2. Yang kedua, "menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya."

Keuntungan yang sebesar-besarnya itu sampai sebesar apa? Kita harus sadar "keuntungan yang sebesar-besarnya" itu berarti tidak ada batasan sampai seberapa besar keuntungan yang mau diraup.

Dari kedua poin itu, kita bisa lihat bahwa dengan ekonomi manusia selalu berusaha untuk menukar sesuatu yang sifatnya terbatas (sumber daya alam) dengan sesuatu yang tidak terbatas (keuntungan yang sebesar-besarnya). Sekali lagi, terbatas vs. tidak terbatas. Imbasnya ya… eksploitasi itu.

Saya yakin tidak ada negara maupun perusahaan yang visinya mengurangi profit demi lingkungan hidup. Semua perusahaan dan negara pasti punya visi untuk terus bertumbuh dan berkembang walaupun ujung-ujungnya kelestarian lingkungan dikorbankan baik secara sadar maupun tidak, langsung maupun tidak. Ini adalah ilusi pertumbuhan ekonomi yang tiada batas (the fairy tale of eternal economic growth).


Exploitation of Fossil Fuel

Kemudian, perusahaan dan negara juga menggunakan bahan bakar fosil untuk menjalankan operasionalnya. Semua orang di dunia ini memang telah sangat bergantung pada bahan bakar fosil untuk hidup sehari-hari, terutama untuk memproduksi energi. Bahan bakar fosil adalah salah satu sumber daya alam yang telah dieksploitasi habis-habisan tidak hanya untuk menyokong kehidupan tetap juga memuaskan keserakahan.

Tidak dipungkiri bahwa bahan bakar fosil sangat padat energi yang tidak atau setidaknya belum dapat ditandingi oleh sumber daya terbarukan. Bangsa Cina sebenarnya telah memanfaatkan batu bara, salah satu bahan bakar fosil, sejak 3,000 tahun yang lalu. Lalu, pemanfaatan bahan bakar fosil secara masif dimulai pada saat Revolusi Industri antara tahun 1760 - 1840, baru kira-kira sekitar 1/4 abad yang lalu. Tetapi peak oil, yaitu masa puncak ekstraksi minyak bumi sudah di depan mata, yaitu di antara tahun 2019 – 2040. Ini karena kecepatan penggunaan bahan bakar fosil lebih tinggi daripada kecepatan produksinya. Belum lagi kita bicara mengenai sumber daya yang terbatas.


Human Overpopulation 

Revolusi industri konon telah meningkatkan kualitas dan kesejahteraan hidup manusia yang membuat harapan hidup manusia menjadi lebih panjang dan prolifik. Enam ratus juta penduduk di tahun 1700-an telah berkembang empat kali lipat dalam 2¼ abad saja yaitu menjadi 2 milyar di tahun 1928. Saat tulisan ini berproses, populasi sudah hampir mencapai 8 milyar dan diproyeksikan menjadi hampir 11 milyar di abad ke-22. Itu lebih dari 20x lipat hanya dalam empat abad. Pertumbuhan penduduk memang meningkatkan ekonomi tetapi sebaliknya merusak lingkungan seperti yang sudah dibahas di awal tulisan ini.


The Generation of Consumers

Karena revolusi industri melahirkan mesin-mesin yang membuat produksi menjadi lebih cepat dan efisien, maka terjadilah overproduction yang menyebabkan terjadinya The Great Depression di antara tahun 1929 - 1939. Karena overproduction ini, perusahaan mulai memperkenalkan konsumerisme kepada pasar. Di tahun 1950-an iklan-iklan mulai bermunculan di televisi menciptakan suatu generasi yang konsumtif.


Summary

Jadi, sepertinya:

1. keserakahan manusia: pertumbuhan ekonomi yang tiada batas,

2. eksploitasi dan ketidakpedulian akan alam,

3. ledakan populasi, dan

4. keserakahan manusia: konsumerisme,

keempat hal ini menjadi tulang punggung pencemaran dan kerusakan lingkungan serta hilangnya keanekaragaman hayati yang ada di Bumi ini.


My Blog

Kita harus ingat bahwa sebenarnya alam tidak membutuhkan kita, tetapi manusia sangat membutuhkan alam untuk hidup. Walaupun para ilmuwan katanya sedang mencari cara agar manusia bisa hidup di planet lain seperti Mars atau di Bulan, Bumi adalah satu-satunya "rumah" kita yang nyaman. Tetapi manusia bukan satu-satunya spesies penghuni Bumi, kita juga berbagi dengan 8.7 juta spesies lainnya.

Manusia sering menyebut dirinya sebagai makhluk yang paling cerdas dan mulia. Kalau memang demikian, mari kita buktikan dengan lebih peduli terhadap mereka dan lingkungan kita. Blog ini harapannya bisa menjadi sarana informasi dan edukasi agar kita sebisa mungkin dapat menjadi manusia yang lebih baik bagi Bumi dan semua makhluk yang ada di dalamnya.


Selamat membaca.




Komentar