AYO FOLLOW

Gadis Kretek: Romansa, Budaya, dan Kontroversi di Balik Asap Kretek


Gadis Kretek telah tayang di Netflix sejak 2 November 2023, tetapi baru kali ini saya berkesempatan menontonnya sampai selesai. Kesan pertama saya: film ini sungguh memanjakan mata. Ia menghadirkan suasana Jawa tahun 1960-an yang begitu kental—nostalgic, romantic, sekaligus mistis—hingga kita sebagai penonton seolah dapat merasakan aura kemistisan dan keanggunan budaya Jawa dalam setiap adegannya.

Walaupun inti ceritanya adalah romansa antara Dasiyah dan Soeraja, film ini juga berhasil mengangkat dunia industri kretek serta konteks politik yang bergejolak pada masa itu. Bravo untuk penulis novelnya, Ratih Kumala; sutradara Kamila Andini dan Ifa Isfansyah; seluruh pemain; dan kru yang membuat film ini terasa begitu hidup dan atmosferik.


Rokok dan Kretek: Apa Bedanya?

Sebelum membahas lebih jauh, ada baiknya memahami sejarah singkat kretek dan bagaimana ia berbeda dari rokok biasa—karena inilah tulang punggung tematik dari Gadis Kretek.

Sejarah konsumsi tembakau di Indonesia sudah muncul sejak era Roro Mendut pada masa Kerajaan Sultan Agung. Namun kretek baru ditemukan sekitar tahun 1880-an di Kudus oleh Haji Djamhari. Konon, ketika ia mengalami nyeri dada, ia mengoleskan minyak cengkeh sebagai obat. Merasa terbantu, ia kemudian mencampurkan cengkeh dengan tembakau dan menciptakan rokok obat yang berbunyi khas “kretek-kretek” saat dibakar.

Inovasi inilah yang menjadi fondasi industri kretek, kemudian dikembangkan oleh Nitisemito pada tahun 1906 melalui pabrik Cap Bal Tiga. Sejak saat itu, kretek tidak hanya menjadi komoditas komersial, tetapi juga ikon budaya, bagian dari sejarah ekonomi, sekaligus simbol kearifan lokal Indonesia.

Setelah kemerdekaan, industri kretek berkembang pesat. Masa keemasannya muncul pada tahun 1970-an, ketika teknologi produksi modern mendorong kapasitas industri ke skala masif. Karena itu, Gadis Kretek—yang berlatar tahun 1960-an dan diceritakan sebagai kilas balik dari tahun 2001—menangkap masa awal kejayaan industri kretek sebelum industri ini sepenuhnya terserap dalam arus globalisasi.


Dasiyah dan para pelinting—jantung seni kretek yang diwariskan lintas generasi.


Romantisme Rokok dalam Film Gadis Kretek

Saya tidak akan membahas keseluruhan plot—lebih menarik jika kalian menonton sendiri (total durasinya sekitar lima setengah jam). Sebaliknya, saya ingin mengangkat isu besar dari film ini: bagaimana kretek digambarkan begitu romantis hingga mengaburkan citra buruk rokok itu sendiri.

Dalam film ini, kretek tampil sebagai sesuatu yang indah, eksotis, bahkan membanggakan. Industri kretek digambarkan bukan sebagai manufaktur semata, tetapi sebagai seni turun-temurun: pilihan daun tembakau, aroma cengkeh, racikan saus, dan proses melinting yang hampir ritualistik. Perspektif ini begitu seductive, membuat kita ikut terseret oleh pesonanya.

Tokoh utama, Dasiyah, adalah putri pemilik pabrik Kretek Djati (yang kemudian menjadi Kretek Merdeka). Sejak kecil ia sudah terlibat dalam dunia kretek—memilih tembakau, memahami aroma, hingga melinting rokok, satu-satunya peran yang diperkenankan bagi perempuan saat itu. Ketika dewasa, ia menjadi kepala pelinting rokok. Namun ambisi terdalamnya adalah memasuki ruang saus, tempat peracikan perisa kretek yang dianggap sakral. Perempuan dilarang masuk karena dipercaya dapat “mengasamkan” saus—percaya atau tidak, mitos ini dikukuhkan dalam budaya industri pada masa itu.

Kisah Arum di tahun 2001 memperlihatkan dilema yang sama. Meski ia seorang dokter yang memahami bahaya rokok, ia tetap tak kuasa menolak pesona kretek buatan ibunya. Inilah kekuatan film ini: romantisasi budaya mengalahkan logika kesehatan.

Film ini berhasil membuat kita seolah lupa bahwa rokok adalah produk berbahaya. Melalui visual yang anggun, emosi yang kaya, dan atmosfer budaya Jawa yang sangat nostalgik, kretek tampil sebagai warisan luhur, bukan ancaman kesehatan. Inilah daya pikat sekaligus kontroversinya.


Dasiyah di Ruang Saus—tempat sederhana yang berubah
menjadi ruang sakral bagi aroma, kenangan, dan ambisi.


Industri Kretek: Dulu dan Saat Ini

Yang perlu kita tahu, setelah masa kemerdekaan, industri kretek tidak hanya dipandang sebagai komoditas, tetapi sebagai warisan budaya nasional yang melekat kuat dalam identitas bangsa. Sektor ini menjadi tulang punggung ekonomi lokal, menyediakan lapangan kerja bagi berbagai lapisan masyarakat: mulai dari petani tembakau dan cengkeh, para pengrajin linting, pekerja pabrik, hingga industri rumahan. Persis seperti yang digambarkan dalam Gadis Kretek, kretek bukan hanya produk, tetapi sebuah ekosistem sosial dan budaya.

Selain ribuan pabrik kecil dan industri rumahan, pasar kretek secara umum dikendalikan oleh beberapa perusahaan besar yang telah lama mendominasi brand recognition dan market share—seperti Gudang Garam, HM Sampoerna, dan Djarum. Kekuatan perusahaan-perusahaan ini mencerminkan bagaimana industri kretek berevolusi dari kerajinan tradisional menjadi sektor yang diatur secara ketat oleh kapital dan modernisasi.

Namun bahkan sejak masa itu, pemerintah Indonesia sudah memahami dilema besar: di satu sisi, rokok memberikan manfaat ekonomi yang sangat signifikan—dari penerimaan cukai hingga lapangan kerja—tetapi di sisi lain, risiko kesehatan akibat merokok tidak dapat diabaikan. Dari sinilah lahir pendekatan kebijakan yang sering disebut “middle-of-the-road”—yakni regulasi kompromi yang tidak seketat standar internasional, tetapi juga tidak sepenuhnya bebas.

Memasuki era modern, terutama sejak 1990-an hingga kini, skala industrinya semakin masif. Industri rokok menyumbang lebih dari 96% pendapatan cukai nasional dan sekitar 10% total penerimaan pajak. Pada tahun 2024 saja, pendapatan negara dari rokok mencapai Rp 163,2 triliun, dan sektor ini mempekerjakan hampir 6 juta orang, mulai dari hulu hingga hilir rantai pasok. Indonesia juga merupakan pasar rokok terbesar kedua di dunia, sekaligus pasar terbesar untuk kretek, dan menjadi eksportir produk tembakau terbesar keempat dengan nilai sekitar US$1,85 miliar atau sekitar Rp 30,8 triliun..

Dengan angka sebesar ini, Indonesia masih belum meratifikasi WHO FCTC (World Health Organization Framework Convention on Tobacco Control). Iklan rokok tetap muncul pada jam malam, billboard ada di mana-mana, dan rokok ketengan masih sangat mudah diakses—terutama oleh remaja dan kelompok berpenghasilan rendah.

Sistem cukai bertingkat—yang dirancang untuk melindungi “industri tradisional”—justru menciptakan perverse incentive: perusahaan besar memecah pabrik menjadi banyak unit kecil agar masuk ke cukai rendah. Hasilnya: harga rokok menjadi murah secara artifisial, mempermudah konsumsi daripada berhenti. Alih-alih melindungi industri rumahan, kebijakan ini malah menciptakan bentuk neo-kolonialisme baru: sektor budaya yang seharusnya membanggakan Indonesia kini dikuasai oleh korporasi besar dan kepentingan asing.

Film Gadis Kretek menangkap kompleksitas ini—bukan lewat edukasi atau ceramah moral, tetapi melalui estetika yang memukau. Penonton terseret ke dalam kisah dan visualnya, sehingga lupa bahwa di balik semua keindahan itu ada realitas kesehatan yang keras. Di sinilah daya tarik sekaligus tantangannya.


Kisah cinta Dasiyah dan Soeraja — romansa
yang membungkam sejenak kontroversi di balik kretek.

Dualitas Kretek: Identitas, Romantisme, dan Kenyataan Pahit

Namun pada akhirnya, terlepas dari kontroversi mengenai citra rokok di film ini, Gadis Kretek tetap merupakan karya Indonesia yang cinematic, apik, dan memukau. Film ini berhasil mengangkat sebuah produk berbahaya menjadi identitas budaya Indonesia yang terhubung begitu dalam dengan sejarah, kebanggaan, dan jati diri bangsa.

Estetika dan emosi yang dibangun dalam film ini seolah mengalahkan etika. Melalui seni peracikan saus, keahlian melinting yang diwariskan turun-temurun, dan kisah keluarga yang penuh ambisi, kretek ditampilkan bukan sekadar komoditas, tetapi sebagai artistry. Ruang saus yang sederhana pun bisa terlihat sakral dan eksotis.

Romansa Dasiyah dan Soeraja juga mengaburkan sudut pandang moral. Cinta dan nostalgia mengalihkan pandangan penonton dari konsekuensi kesehatan yang melekat pada produk tersebut. Di dalam film ini, rokok tampil sebagai simbol, bukan karsinogen—sebagai seni, ritual, warisan budaya, dan craft spiritual yang diwariskan lintas generasi.

Pada akhirnya, rokok kretek adalah hidup sekaligus kematian bagi bangsa Indonesia—sebuah dualitas yang film ini tampilkan dengan begitu puitis dan memikat.


Komentar