AYO FOLLOW

Komersialisasi Produk di atas Kreativitas: Ketika Teknologi Visual Dieksploitasi Demi Hiburan Dangkal

 



Neytiri menatap kosong. Mungkin dia sedang menatap sutradaranya,
bertanya dalam hati: “Pak James, kenapa alurnya begini lagi… begini lagi?


Nggak perlu repot-repot spend waktu 3 jam 18 menit untuk sesuatu yang udah berulang kali disajiin dari 16 tahun lalu dan 3 tahun yang lalu, lagi! Cerita yang itu-itu lagi, dibungkus teknologi yang makin mahal, tapi makin kosong.

Mendingan nonton Zootopia 2 aja. Seriusan.


Tetapi kalau kalian penasaran kenapa Avatar: Fire and Ash terasa benar-benar kosong, kalian bisa baca ulasan lengkap saya dalam bahasa Inggris di Medium:
James Cameron’s $400M Therapy Session: Why Avatar 3 is Narrative Slop

Di sana saya menjabarkan bagaimana, lewat berbagai interview-nya, James Cameron — dengan kata-katanya sendiri — mengakui bahwa ia sekarang lebih mirip movie farmer daripada seorang kreator yang membangun dunia dengan fondasi kuat.

Bahwa Avatar 2 dan 3 tidak pernah di-planning dari awal, bahwa kelanjutan Avatar tergantung laku atau tidaknya film, bahwa banyak adegan dan cerita muncul spontan alih-alih ditulis dengan hati, bahwa ia comot berbagai konsep budaya tanpa riset dan filosofi yang mendalam… dan yang paling “wakwaw” lagi: fondasi Avatar bukanlah mitologi, tetapi cerminan dinamika keluarga Cameron sendiri.

Sungguh… sangat mengecewakan.





Komentar

  1. Huaaa saking penasarannya sampai buka mediumnya aku. Wkwkw..
    Tapi jujur aku malah belum nonton yang kedua dan ketiganya. Lebih tepatnya ngintip 5 menit doang pas suamik nonton. Tapi kalau aku lihat di trailernya kok rasanya nggak jauh beda sih sama yang pertama which is secara plot. Entah apa cuma perasaanku aja ya. Malah kesan nonton film pertama lebih berkesan di aku. Bener² James Cameron banget.

    Dan pas baca mediummu tuh aku baru ngeh kalau Avatar nggak ada rencana di pakai sebagai trilogy. Ciiaaatt.. 🫣


    Emang kalau awalnya dari kreatifitas terus dipaksa buat terus diproduksi, rasanya bakal kosong. Karena kreatifitas mah mengalir bukan dipaksain, ye nggak.. 🀭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Avatar yang pertama memang keren sih — karena waktu itu semuanya masih baru: Pandora, visualnya, konsepnya masih fresh banget. Yang kedua masih oke lah karena kita diajak eksplor dunia air. Tapi begitu yang ketiga… ya ampun, hampir nggak ada perkembangan di alur utamanya.

      Sebenarnya kalau plot-nya kuat, nggak masalah juga. Tapi kayaknya Pak James ini kebanyakan budget, jadi ya suka-suka beliau aja mau dibawa ke mana ceritanya. Hehehe.

      Hapus
  2. Bahasan komersialisasi produk ini bikin mikir ulang soal batas antara kebutuhan, tren, dan strategi pemasaran yang kadang terlalu memaksa. Tapi btw aku belum sempet nonton avatar yng ke 3 huaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau nonton cuma buat jalan-jalan ke Pandora sih silakan banget, karena secara visual memang tetap keren. Tapi jangan berharap terlalu banyak dari segi plot, ya.

      Hapus
  3. Avatar bukan jenis movie yang akan kutonton. Jadi, sejak di yang pertama pun aku belum nonton.

    Tapi, aku heran sih. Ini yang ke-3 ya Fire and Ash ini?

    Temanku excited banget nontonnya. Cuma, aku memang belum nanya kesan dia sehabis nonton sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Secara teknologi dan visual memang nggak ada tandingannya, Mba. Cuma aku tipe yang lebih mentingin plot dan makna, jadi pas keluar bioskop rasanya… ya kesel aja.

      Hapus
  4. Iya mbak aku merasakan juga, kek krik krik alurnya hahaha, cuma lama di bioskop aja rasanya duduk sambil minum cola dan makan popcorn😁😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha iya, bener. Kalau mau nonton, nikmati pemandangannya aja, jangan berharap yang macem-macem dari ceritanya. πŸ˜„

      Hapus
  5. wah baru tahu kalo di balik cerita avatar ada cerita avatar lainnya di dunia nyata. Makasi loh buat POV nya kak

    BalasHapus
  6. Jadi intinya avatar itu membosankan ya mbak? Gak seru? Tapi jadi penasaran saya pengen nonton.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau buat memanjakan mata, film ini masih oke kok. Tapi soal ceritanya… ya gitu-gitu aja. Polanya sama: manusia serakah, lawan alam, kalah. Titik.

      Hapus
  7. Ya, "penyakit" di film sekuel/kelanjutan yang dipaksakan karena laku, kebanyakan berakhir kering.

    Coba meluncur ah ke mediumnya.

    BalasHapus
  8. ya ampun, mbak aku sudah nyiapin diri buat tulisan panjang lho ini. hehe. tapi kemarin aku sempat lihat di tiktok si timothy ngelantur juga bilang begini jadinya aku nggak terlalu penasaran deh sama avatar 3. cuma jujur ya aku sebenarnya dari avatar 1 itu juga menganggapnya ini film cuma menang di teknologi aja mana kan rata-rata CGI dan nggak asli gitu kayak ini mau menilai akting juga muka mereka ditimpa gitu heu. trus durasi yang makin panjang juga bikin mikir mau nonton

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha iya Mba, segitu keselnya aku sama film ini. Sampai bingung mau ngomong apa lagi setelah keluar bioskop. Durasi 3 jam 18 menit tuh nggak ngotak—aku sampai bolak-balik toilet dua kali. πŸ˜…

      Hapus
  9. Saya sepakat bahwa Avatar masih “berfungsi” sebagai tontonan visual, dan saya tidak menafikan pencapaian teknis Cameron. Namun justru karena standar itulah, kerapuhan naratifnya terasa semakin mencolok. Ketika sebuah film mengklaim diri sebagai mitologi besar dan investasi emosional jangka panjang, ia tidak bisa hanya bergantung pada skala dan teknologi.

    BalasHapus
  10. Ini pengantar singkat sebelum saya menuju laman medium mbak Feli.
    Kemarin tuh saya dan anak-anak ada kesempatan nonton Fire dan Ash di bioskop tapi didetik-detik terakhir si sulung malah minta dibatalkan karena lebih pilih ke taman bermain sama sepupunya haha.

    BalasHapus
  11. Banyak Film yang kayak gitu. Karena sudah berhasil, trus sang produser jadi tergiur bikin sekuelnya. Menurut aku nggak harus dipaksain bikin sekuel. Mendingan bikin projek baru yang ceritanya sudah matang.

    BalasHapus
  12. Itulah kenapa, aku kadang gak milih film atau drama yang berseason-season. Kalau risetnya bagus, ya hayuk. Cuma seringnya kaya film Indo. Mana yang ramai, eh ngikut aja

    BalasHapus
  13. Ahahaha, setuju sih. Avatar memang juara di visualnya aja karena film seperti ini belum banyak di Indonesia jadi terlihat menarik dan mahal. Tapi, ceritanya ya gitu-gitu aja sebenarnya. Sad sih, banyak yang bisa dieksplor sama ceritanya

    BalasHapus
  14. Ini film dari seri pertama sangat bagus apalagi dari segi efeknya

    BalasHapus
  15. Sebagai emak menuju nenek nenek jujur Avatar bukan tipe tayangan untuk usia seperti saya ya. Hehehe...
    Tapi kalau baca ulasannya sih cukup menarik juga ya

    BalasHapus
  16. Belum pernah nonton lanjutannya Avatar saya Kak. Baru nonton season 1 aja, tapi nggak tahu ya ada season selanjutnya saya belum nonton juga.

    BalasHapus
  17. Avatar adalah salah satu film yg aku agak males nonton πŸ˜‚ kurang menarik aja sih visual sma temanya jgaa

    BalasHapus
  18. Pembahasan menarik banget! Emang bener sih, strategi komersialisasi produk itu penting banget buat nentuin kesuksesan bisnis.

    BalasHapus

Posting Komentar

Komen dong...